Konbes NU di Ponpes Al-Falah : Mencari Jenis Simbosis

Oleh

Muammar Bakry

(Peserta Konbes dari Sulsel)

Bacaan Lainnya

Munas (Musyawarah Nasional) dan Konbes (Konfrensi Besar) Nahdlatul Ulama yang diadakan di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur, berfungsi sebagai forum permusyawaratan tertinggi di bawah Muktamar. Dua kegiatan ini diadakan sekurang-kurangnya dua kali dalam satu masa jabatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berlaku selama 5 tahun.

Munas sebagai ajang berkumpulnya ulama NU se-Indonesia membahas berbagai persoalan keagamaan, baik yang bersifat waqi’iyah (uptodate), maudlu’iyah (tema-tema tertentu), maupun qanuniyah (regulasi dan perundang-undangan).

Dalam bahasan ini banyak diangkat masalah kemasyarakatan hingga pemerintahan. Mulai dari jejak-jejak aib digital, otoritas agama dalam kekuasaan hingga rekomendasi tata kelola MBG.

Adapun Konbes yang memiliki kewenangan membahas Peraturan Perkumpulan (Perkum), yakni aturan organisasi yang berada di bawah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Beberapa materi yang diangkat antara lain rancangan peraturan perkumpulan terkait pengelolaan usaha milik PBNU, pengelolaan tambang, tata kelola keuangan, serta tata kelola Digdaya sebagai bagian dari sistem tata kelola persuratan yang kini telah diterapkan dalam proses transisi dari tata kelola manual menuju tata kelola digital.

Materi-materi yang diangkat dalam Konbes yang disebutkan terakhir, menjadi rahasia umum terkait dengan isu disharmonis antar pengurus di tingkat PBNU yang mengakibatkan terjadinya pemecatan kepengurusan, sekalipun telah dilakukan normalisasi kelembagaan.

Di tengah kegembiraan dan kebahagiaan para peserta Munas dan Konbes, kondisi yang disebutkan di atas mengantar suasana kebatinan Munas dan Konbes kali ini dalam konfigurasi pemataan tokoh-tokoh NU yang diperkirakan akan ikut berkontestasi dalam Muktamar ke 35 yang akan digelar di Agustus mendatang. Karena itu, Konbes ini sangat “politis”, sebab penempatan Muktamar yang akan datang serta aturan organisasi dapat menjadi sinyal arah kepengurusan PBNU ke depan.

Dari semua pesan yang mengantar acara pembukaan, mulai pilihan ayat yang dibaca oleh qori, sambutan tuan rumah, sambutan Ketum, Rais ‘Amm, hingga Ketua SC, semua menyiratkan ada sesuatu yang terjadi dalam ormas yang besar ini, menuntut pentingnya membangun soliditas dalam menata jam’iyah. Artinya, sense of crisis yang dirasakan oleh struktural NU menjadi alarm positif dalam menyadarkan ikatan emosioanal nahdiyah dalam organisasi untuk suatu tujuan (sense of purpose).

Sebab, adalah musibah yang terbesar, jika penyakit tidak mampu dideteksi oleh tubuh, sampai pada tingkat yang akut, yaitu selalu merasa sehat tapi penyakit sudah pada stadium lanjut.

Boleh jadi, pilihan lokasi Munas dan Konbes kali ini diadakan di Ponpes Al-Falah, Ploso Kediri karena ada kesadaran di atas. Pesantren tertua di Indonesia yang lebih tua daripada NU sendiri, yakni dirintis di tahun 1925 oleh KH. Ahmad Djazuli Utsman, murid langsung dari KH. Hasyim Asy’ari.

Sekalipun lokasinya di pelosok Jawa Timur, tapi Al-Falah berarti kemenangan. Agar menjadi tafa’ul dan tawassul bagi kemenangan NU.

Gabungan kepanitiaan antara SC dan OC nampak jelas terjadi win win solution antar pengurus PBNU saat ini. Ada simbiosis komensalisme yang terjadi, di mana masing-masing pihak tidak ada yang diuntungkan atau dirugikan. Yang pasti, tidak terjadi simbiosis parasitisme yakni salah satu pihak diuntungkan dan yang lain dirugikan, sebab jika masing masing bersitegang maka mungkin Munas dan Konbes belum terlaksana.

Namun penempatan di Ponpes Al-Falah, dengan tafa’ul dan tawassul kepada pendirinya, dan nama pesantrennya, simbiosis mutualisme dapat dirasakan oleh semua pihak, pihak jam’iyah dan jamaah serta pihak yang akan maju berkontestasi dalam berkhidmat untuk NU. Wallohu A’lam.

Ploso, 22 Juni 2026

Pos terkait