Oleh
Yusnita, S.Pd., M.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Duta Baca Kabupaten Donggala Tahun 2021–2026
Prolog: Ketika Pagi Menyapa Buku dan Layar
Di ujung timur Sulawesi, di mana ombak Teluk Palu membisikkan nama Donggala, aku melihat pagi-pagi yang selalu sama. Anak-anak duduk bersila di serambi rumah panggung, jari-jari mereka lebih akrab dengan layar kaca yang berkilau daripada dengan lembaran kertas yang menguning. Mata mereka menyala—bukan karena cahaya matahari, tetapi karena pantulan biru dari dunia digital yang tak bertepi. Aku, sebagai guru, sebagai ibu bagi mereka di sekolah, sebagai Duta Baca yang diamanahi untuk merawat kata-kata, sering bertanya: di mana letak buku dalam pusaran cahaya itu?
Namun, semakin aku merenung, semakin aku sadar bahwa pertanyaanku keliru. Bukan buku yang hilang; bukan pula minat baca yang padam. Yang terjadi adalah pergeseran—seperti sungai yang berubah aliran, tetapi airnya tetap mengalir. Generasi muda Donggala gemar membaca, tetapi mereka membaca dalam bahasa yang berbeda: caption yang singkat, video yang berdetak cepat, unggahan yang menggulung tanpa henti. Mereka adalah pembaca yang setia, hanya saja medium mereka bukan lagi kertas, melainkan cahaya. Dan di sinilah, di antara layar dan lembaran, aku melihat peluang yang selama ini terlewat—bahwa media sosial bukanlah musuh buku, melainkan jembatan yang menghubungkan kata-kata dengan kehidupan, buku dengan rupiah, dan mimpi dengan kenyataan.
Angka yang Bicara, Hati yang Merasakan
Rapor Pendidikan melaporkan bahwa Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Kabupaten Donggala pada 2025 mencapai 63,58—naik 4,02 poin dari 2024. Kepala Dinas Pendidikan kita menyebutnya sebagai tanda bahwa iklim di sekolah membaik. Aku percaya itu. Namun, sebagai guru yang setiap hari berdiri di depan kelas, aku juga merasakan adanya jarak. Angka itu berbicara tentang kurikulum, tentang ujian, tentang kehadiran. Tetapi tidak berbicara tentang apakah anak-anakku bisa menghubungkan apa yang mereka baca dengan apa yang mereka butuhkan untuk hidup.
Di Donggala, rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas hanya 8,01 tahun—kelas VIII SMP, tertinggal dari rata-rata nasional yang mencapai 9,07 tahun. Dari 13 kabupaten di Sulawesi Tengah, kita adalah yang paling bawah. Di balik angka itu, ada wajah-wajah: ayah yang tidak bisa membaca label pupuk, ibu yang tidak memahami resep untuk menjual kue, anak-anak yang berhenti sekolah karena lebih memilih membantu orang tua mencari ikan. Angka kemiskinan kita turun menjadi 14,66 persen, tetapi masih ada 45 ribu jiwa yang hidup dalam keterbatasan. Dan di sinilah, di antara deretan angka itu, aku merasakan panggilan yang lebih dalam: bahwa literasi tidak boleh berakhir di perpustakaan yang sepi; ia harus menyeberangi sungai kehidupan dan berlabuh di dapur, di pasar, di bengkel, di pantai.
Membaca Bukan Beban, Melainkan Jalan
Selama ini, membaca diajarkan sebagai tugas—pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, halaman yang harus dihafal, nilai yang harus dikejar. Akibatnya, membaca menjadi beban, bukan sayap. Anak-anak datang ke perpustakaan dengan wajah kusut, bukan dengan hati terbuka. Mereka melihat buku sebagai tembok, bukan jendela. Padahal, aku sering berkata kepada mereka: “Anak-anakku, buku itu bukan musuh. Ia adalah pisau di tangan tukang kayu—jika kau tahu cara menggunakannya, ia akan membentuk rumah untuk keluargamu.”
Namun, bagaimana mungkin mereka percaya ketika buku-buku yang tersedia di rak perpustakaan kita adalah buku-buku usang—berdebu, kaku, dan jauh dari kehidupan mereka? Tidak ada buku tentang menganyam pandan, tentang membuat perangkap ikan dari bambu, tentang mengelola warung kecil di pinggir jalan. Yang ada hanyalah buku teks yang berat dengan bahasa yang asing. Maka, ketika media sosial menawarkan konten yang dekat, yang visual, yang berdetak seiring nadi mereka, wajar jika anak-anak kita memilih layar. Bukan karena mereka malas, tetapi karena mereka haus akan sesuatu yang terasa nyata, terasa berguna, terasa hidup.
Di sinilah kesalahan kita—bukan pada anak-anak, bukan pada teknologi, tetapi pada pendekatan literasi yang masih kaku. Seperti pakaian usang yang tidak lagi pas di tubuh, metode kita sudah tidak cocok dengan zaman. Kita mengeluh bahwa mereka tidak membaca buku, tetapi kita lupa bahwa buku yang kita sajikan tidak berbicara kepada mereka. Kita meratapi dominasi medsos, tetapi kita lupa bahwa medsos hanyalah cermin dari kebutuhan mereka akan keterampilan, akan pengakuan, akan penghasilan.
Jembatan di Atas Sungai Digital
Aku tidak ingin menjadi guru yang meratapi zaman. Aku ingin menjadi guru yang membangun jembatan. Media sosial, bagiku, bukanlah banjir yang menghanyutkan budaya baca, melainkan sungai yang dapat kita arungi untuk sampai ke pulau pengetahuan. Jika konten digital diarahkan pada nilai tambah ekonomi—tutorial membuat kerajinan dari sampah pantai, resep olahan ikan yang bisa dijual, cara mengelola keuangan sederhana—maka membaca akan berubah dari konsumsi hiburan menjadi investasi masa depan.
Bayangkan: seorang remaja di desa Labean menonton video di TikTok tentang cara membuat gantungan kunci dari manik-manik. Ia membeli bahan, ia mencoba, ia gagal, ia mencoba lagi. Akhirnya, ia berhasil. Ia menjual hasilnya ke teman-temannya, mendapat uang jajan, lalu membeli buku lain tentang anyaman. Ia membaca buku itu, bukan karena guru menyuruh, tetapi karena ia ingin menghasilkan lebih banyak. Siklus itu—dari layar ke tangan, dari tangan ke pasar, dari pasar ke buku—itulah literasi yang hidup. Itulah jembatan yang aku rindukan.
Di Donggala, kita memiliki potensi yang melimpah: pandan yang tumbuh di pesisir, bambu yang menjulang di perbukitan, sampah plastik yang berserakan tetapi bisa didaur ulang. Semua itu bisa menjadi bahan baku kerajinan yang bernilai jual. Dan semua itu diajarkan di dalam buku—buku tentang kerajinan tangan, buku tentang ekonomi kreatif, buku tentang kewirausahaan. Tapi buku-buku itu tidak sampai ke desa-desa. Atau jika sampai, mereka berdebu di rak karena tidak ada yang menunjukkan bagaimana menghubungkannya dengan kehidupan. Media sosial bisa menjadi jembatan itu—menghubungkan kata-kata di buku dengan aksi nyata di lapangan, melalui video, melalui gambar, melalui cerita yang menggugah.
Membaca Mendalam: Akar yang Tak Terlihat
Namun, aku tidak boleh naif. Ada bahaya di balik derasnya arus digital. Membaca di layar cenderung cepat, dangkal, dan terfragmentasi. Kemampuan membaca mendalam—membaca untuk menganalisis, merenung, dan menghubungkan—telah menurun drastis. Generasi muda kita kehilangan kemampuan berpikir sistematis. Mereka sulit merencanakan usaha, sulit menghitung risiko, dan mudah terjebak dalam solusi instan. Akibatnya, potensi besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal terbuang sia-sia. Tidak ada yang mampu menulis proposal, membaca peluang pasar, atau mempelajari teknik produksi secara mendalam. Budaya baca mendalam adalah fondasi dari inovasi; dan tanpa fondasi itu, bangunan kemandirian ekonomi kita akan roboh.
Maka, jembatan yang aku bangun bukanlah jembatan satu arah, dari buku ke layar. Aku ingin membangun jembatan dua arah: dari buku ke layar untuk menginspirasi aksi, dan dari layar ke buku untuk memperdalam pemahaman. Ketika seorang anak menonton video cara membuat anyaman, ia akan terdorong untuk mencari buku yang membahas teknik anyaman secara lebih rinci. Ketika ia membaca buku itu, ia akan kembali ke media sosial untuk berbagi karyanya, bertanya pada komunitas, dan belajar dari orang lain. Itulah ekosistem literasi yang utuh: membaca, melakukan, berbagi, dan menghasilkan. Itulah siklus yang mengubah membaca dari beban menjadi kekuatan.
Menyulam Kata dan Rupiah
Visi Bupati Donggala adalah “Donggala Sejahtera, Maju, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan.” Bagaimana mungkin kita mencapai visi itu jika literasi kita masih seremonial? Peringatan Hari Buku Nasional yang kita rayakan setiap tahun sering kali terasa seperti pesta yang cepat berlalu—lomba resensi, bedah buku, pameran. Dampaknya surut secepat ombak. Aku mengusulkan: setiap peringatan literasi harus diakhiri dengan pameran produk hasil membaca. Bukan sekadar pameran buku, tetapi pameran hasil karya yang lahir dari membaca. Itulah dampak nyata yang terukur.
Aku telah menyaksikan sendiri kekuatan perubahan itu. Di SMP Negeri 2 Banawa, aku mengajak anak-anakku membaca buku tentang pembuatan lilin hias. Mereka membaca, lalu praktik, lalu menjual. Awalnya hanya tiga anak yang tertarik, lalu menjadi sepuluh, lalu menjadi satu kelas. Mereka tidak hanya mendapat uang jajan, tetapi juga kepercayaan diri. Mereka tidak hanya bisa membaca, tetapi juga bisa mencipta. Dan ketika mereka memposting hasil karya mereka di Instagram dengan tagar #BerilmuDenganBukuSejahtera DenganMembaca, teman-teman mereka di sekolah lain bertanya, “Kamu belajar dari mana?” Dan mereka menjawab, “Dari buku.” Itulah momen ketika buku menjadi relevan, ketika membaca menjadi keren, ketika kata-kata bertemu rupiah.
Ruang Praktik dan Pojok Literasi
Untuk memperluas dampak itu, kita membutuhkan lebih dari sekadar perpustakaan. Kita membutuhkan ruang praktik—tempat di mana anak-anak bisa menjahit, menganyam, merakit, menyablon, dan memasak. Perpustakaan desa di Donggala, yang kini berjumlah 24 unit dengan bantuan 1.000 eksemplar buku dari Perpustakaan Nasional, harus dilengkapi dengan ruang kreasi. Buku-buku keterampilan harus ditempatkan di pojok yang mudah dijangkau—di kafe, di pantai, di taman kota, di warung kopi. Membaca harus menjadi bagian dari gaya hidup, bukan kegiatan terisolasi di ruang tertutup.
Aku juga memimpikan program “Membaca untuk Berdagang”—di mana orang tua yang buta huruf diajak belajar membaca label harga, resep sederhana, dan cara menghitung untung rugi. Membaca bukan lagi untuk anak sekolah, tetapi untuk menambah penghasilan keluarga. Perlahan, kebiasaan itu akan menular, seperti api yang merambat dari satu ranting ke ranting lain. Inklusivitas bukanlah sekadar kata; ia adalah praktik menghormati setiap manusia, di mana pun ia berada dalam perjalanan literasinya.
Epilog: Satu Buku, Satu Produk, Satu Rupiah
Di Hari Buku Nasional, ketika bendera berkibar dan pidato bergema, aku ingin mengajak semua anak muda Donggala untuk melakukan satu hal kecil: bacalah satu buku tentang keterampilan, buatlah satu produk, dan juallah hasilnya. Rasakan bagaimana buku bisa mengubah hidupmu. Rasakan bagaimana membaca bukanlah penjara, tetapi pintu. Media sosial bukanlah musuh, tetapi sayap. Dan kesejahteraan bukanlah mimpi, tetapi tujuan yang bisa kita raih, langkah demi langkah, dari satu buku, satu produk, satu rupiah.
Aku adalah guru, ibu, dan Duta Baca. Tapi yang paling penting, aku adalah saksi dari perubahan itu. Aku melihat mata anak-anak yang tadinya redup menyala saat mereka berhasil menjual anyaman pertamanya. Aku melihat ibu-ibu yang tadinya malu membaca, kini dengan bangga menghitung uang hasil jualan kue dari resep yang mereka baca. Aku melihat Donggala, yang tadinya sunyi, kini mulai bersuara dengan karya-karya yang lahir dari kata-kata. Inilah literasi yang aku percaya: literasi yang membebaskan, yang memberdayakan, yang menyejahterakan.(*)











