Selamat Bertugas di Redaksi, Manusia Mesin


oleh: Ruslan Ramli
Dosen Fikom Universitas Esa Unggul, Jakarta

STARNEWSID.COM— Obrolan artificial intelligence (AI) sepertinya never ending story. Kuping ini berulang kali menerima informasi tentangnya dari seminar ilmiah, online atau offline. Dilewatkan sayang, diikuti membosankan. Di Indonesia, teknologi AI sudah merambah dunia perbankan, pendidikan, militer, kesehatan, etc.

Ruslan Ramli membahas perlunya kolaborasi robot dan manusia di redaksi.

Nah pagi kemarin di kampus Universitas Pancasila, pembahasan soal teknologi AI menyasar industri media. Saya bersama dua dosen tuan rumah diberi kesempatan bicara teknologi AI dalam kaitan jurnalistik. Pesertanya menarik karena menghadirkan mahasiswa asing. Lima orang berasal dari Xiamen University, China, menemani mahasiswa Universitas Pancasila dan Universitas Esa Unggul.

Bacaan Lainnya

Kembali ke teknologi AI, apa benar kecerdasan buatan itu menggantikan peran manusia? Sungguh AI menggeser posisi manusia? Robot-robot mewarnai redaksi. Dengan kata lain, manusia – reporter– termarjinalkan sejak teknologi AI hadir di tanah air.

Penulis bersama Dekan Fikom UEU Dr Erna Febriani, Dekan Fikom UP Anna Agustina, Ph.D, Direktur Kerjasama Antar Lembaga UP Gunawan Baharuddin PhD, Dr Nurmala (UEU) dan Dr Cand Riza Darma (UP)

Teknologi komunikasi telah mengubah banyak hal, ruang redaksi termasuk di dalamnya. Media bukan eksepsi atas lompatan jauh teknologi AI. Dari sumber jurnal ilmiah disebutkan bahwa LA Times pada 2014 adalah media pertama yang menyajikan berita gempa bumi di salah satu kota lokal selang tiga menit setelah kejadian. Quakebot menyiarkan peristiwa alam itu sebagai hasil olahan data menjadi informasi publik.

Tahun yang sama, Washington Post mengikuti inovasi LA Times ketika true teller memeriksa pidato politik di AS. Associate Press yang berpusat di NY atau mesin pencari Google juga demikian. Hingga Toutiao, media di Tiongkok mengandalkan robot yang menghasilkan 400-an berita olahraga pada Olimpiade Brasil 2016.

Informasi keandalan teknologi AI menunjukkan banyak tugas-tugas reporter kini dapat dikerjakan robot. Maka lahirlah istilah robotic journalism, aktivitas keredaksian yang mampu dijalankan “manusia mesin” melalui algoritma. Ia adalah program yang berkemampuan super dalam mengubah data terstruktur dalam big data menjadi berita.

Familiar pula sebagai automated journalism, pengaturan otomatis dari program komputer atau teknologi AI. Robotic ataupun automated journalism akhirnya memproduksi berita secara otomatis melalui algoritma tadi. Big data dihimpun dan dianalisis, lalu diubah menjadi berita tanpa intervensi reporter.

Berikutnya, “manusia mesin” mampu menerjemahkan sekaligus mengubah artikel menjadi berita singkat. Dengan kata kunci yang disetel, ribuan kata dalam satu artikel mampu diresume dan dibentuk layaknya sebuah berita.

Penerjemahan bahasa adalah karya lain teknologi AI, dari bahasa asing ke Indonesia. Speech to text juga pekerjaan mudah bagi teknologi AI. Belum lagi aplikasi yang menyediakan sistem pengaturan konten (CMS). Artikel-artikel reporter dikumpulkan dan disetting menjadi berita.

Kasus mudah adalah penggunaan chatGPT. Ayo mengaku siapa yang sering memakai chatGPT untuk mendapatkan pemantik atau latar suatu masalah? Saat kesulitan menemukan judul berita, reporter masih bertanya ke chatGPT. Dikit-dikit chatGPT, atau bentar-bentar chatGPT. Ayo, acungkan tangan yang jadi pelaku.

Pada situasi seperti ini, maka posisi manusia pasti digeser robot. Sebab kerja-kerja rutin redaksi mampu diselesaikan robot. Buat rilis, posting berita, translating, searching dan analyzing data dengan enteng dikerjakan robot. News anchor TVOne dan INews adalah bukti kerja robotic. Sasya dkk adalah robot cantik yang hadir membacakan berita.

Apalagi konstitusi mengakomodasi penggunaan AI dalam karya jurnalistik. Pasal 4 UU l/2025 menyebutkan perusahaan pers bebas menggunakan berbagai jenis aplikasi AI. Yang penting mematuhi prinsip dasar (pasal 2) dan ketentuan lain yang tertera pada UU yang belum sebulan ini diteken Ketua Dewan Pers.

Jadi, jurnalis tergantikan robot, kenapa tidak? At least, sekali lagi untuk kerja-kerja rutin redaksi di atas memang iya. Namun sejatinya, tidak berarti semua mampu dikerjakan robot. Bagaimana pun, segudang masalah keredaksian muncul seiring pemberdayaan robot.

Siapa yang menjamin akurasi berita yang disusun robot secara instan? Bagaimana akurasi olahan robot, apa yakin sudah akurat? Belum lagi verifikasinya lantaran robot tak berinteraksi dengan narasumber. Persoalan serius masih menghantui media untuk menyerahkan keredaksian pada robot. Ada isu plagiarisme, independensi, ketergantungan pada data, penafsiran pada mesin, etc.

Belum lagi soal etika profesi yang sangat elementer. Kemudian emosi dan ekspresi robot yang selalu disandingkan dengan manusia. Dijamin sisi human touch, robot tidak memilikinya. Yakinkah Anda kepada robot sebagai the guardian of democracy? Saya sih tidak, ya. Tapi menawarkan kolaborasi sebagai langkah taktis. Teknologi AI tetap sebagai alat bantu. Manusia pengendalinya.

Editor punya peran sentral untuk mengedit ulang setiap produk sebelum publis. Jangan biarkan teknologi AI menguasai semua lini redaksi.

So, selamat bertugas redaksi “manusia mesin”….

Pos terkait