Quo Vadis PDGI? Refleksi dan Arah Baru Menuju Indonesia Bebas Karies 2030

Oleh

Fuad Husain Akbar

Ketua Bidang Litbang PDGI Cabang Makassar

Kongres PDGI di Surabaya bukan sekadar agenda lima tahunan organisasi; ia adalah titik balik yang menentukan arah baru dalam perjuangan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut rakyat Indonesia.

Bacaan Lainnya

Realitas Kesehatan Gigi dan Mulut di Indonesia

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa 56,9% penduduk mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut, namun hanya 11,2% yang mendapatkan penanganan medis.

93% anak-anak usia dini mengalami karies, dan sekitar 21% populasi kehilangan gigi. Ini bukan hanya soal statistik — ini adalah krisis diam-diam yang mencerminkan ketimpangan dan rendahnya prioritas kebijakan kesehatan gigi di negeri ini.

Tantangan Sistemik yang Perlu Direspons

a. Distribusi tenaga medis tidak merata: 66,6% Puskesmas di wilayah terpencil tak memiliki dokter gigi.

b. Rasio dokter gigi 1:9.565, belum sesuai standar WHO (1:7.500).

c. Minimnya akses dan edukasi pada masyarakat berpenghasilan rendah.

d. Kesadaran preventif rendah, sementara pembiayaan kuratif terus membebani sistem.

Kemana PDGI akan dibawa?

Di sinilah pentingnya memilih Ketua Umum PDGI yang tidak hanya representatif, tetapi juga independen, visioner, dan solutif.

Harapan terhadap Ketua Umum PDGI yang baru.

Kami berharap Ketua Umum yang terpilih:

a. Memiliki independensi dari kepentingan politik atau kelompok manapun, agar dapat memimpin dengan objektif dan inklusif.

b. Membawa gagasan besar untuk menyelesaikan masalah-masalah struktural, termasuk ketimpangan distribusi dokter gigi, reformasi kebijakan pelayanan gigi dalam BPJS, serta penguatan program preventif berbasis komunitas.

c. Mampu merangkul generasi muda dokter gigi, akademisi, birokrasi, dan industri untuk bergerak bersama dalam revolusi pelayanan kesehatan gigi Indonesia.

d. Mendorong PDGI menjadi garda terdepan dalam pencapaian target Indonesia Bebas Karies 2030.

Kongres ini bukan hanya momen memilih pemimpin. Ini adalah kesempatan emas untuk membentuk arah masa depan profesi kedokteran gigi di Indonesia.

Quo Vadis PDGI? Jawabannya ada pada keberanian kita memilih dan melangkah dengan visi besar. (*)

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait