Ruslan Ramli
Dosen Universitas Esa Unggul
STARNEWSID.COM, JAKARTA— Hampir sebulan terakhir penggemar sepak bola tanah air dibuat begadang. Bukan ronda menjaga sekuriti kompleks melainkan menikmati laga akbar Piala Dunia 2026. Dengan segala kemegahannya, edisi pildun tahun ini lebih spesial karena digelar di satu benua tiga negara; Kanada, AS, dan Meksiko. Stadion-stadion futuristik berdiri di 16 kota besar untuk menyajikan 104 pertandingan bagi 48 kontestan.
Publik Indonesia beruntung atas pesta olahraga paling populer sejagad ini. Tidak perlu urus visa dan jauh-jauh terbang ke sana, tidak juga merogoh kocek jutaan rupiah untuk duduk di tribun. Ada TVRI di rumah, gratis. Bahkan bisa menemani tim kesayangan bertanding sambil ngemil di sofa. Ajak teman nobar biar ramai.
Sebagai official broadcaster, TVRI punya hak siaran langsung dari kick off saat opening hingga babak final di New Jersey nanti. Nonton boleh lewat antena, digital, atau platform streaming, semua bisa. Habis (anggaran) banyak tidak mengapa, yang penting penggemar sepak bola puas. Demi layanan publik atau benefit lainnya, setoran angka Ro1,3 triliun ke FIFA bukan masalah. Kira-kira begitu pandangan pemerintah.
Dari pildun kali ini, tema sentral tentu terkait siapa juaranya. Di luar itu, sub tema prestisiusnya adalah memastikan “greatest of all time” (GOAT) sejati. Dalam dua dekade terakhir, pendapat penggemar sepak bola dunia soal siapa pemilik GOAT masih berputar-putar pada sosok Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Publik terbelah tajam di antara dua kapten tim beda negara itu.
Tensi tinggi di beranda media sosial selalu mewarnai pilihan netizen. Walau statistik menunjukkan keunggulan Messi, namun masih banyak juga yang mengidolakan CR7. Messi punya koleksi 8 ballon d’or, Ronaldo 5. Keduanya pernah membawa negaranya juara di benua masing-masing, Messi 2 kali dan Ronaldo sekali. Bedanya Messi mempersembahkan piala dunia untuk Argentina, Ronaldo masih nirgelar bagi Portugal.
Di panggung Piala Dunia 2026, Messi dan CR7 kembali memimpin juniornya untuk meraih trofi yang banyak diimpikan pesepakbola. Sebelum benar-benar mengakhiri masa emasnya , mereka bertahan di atas takhta yang terus digoyang Mbappe (Prancis), Haaland (Norwegia), atau Vinicius (Brasil). Akankah era baru datang? Akankah Argentina back to back atau Portugal pecan telur? Atau malah pamit duluan sebelum turnamen usai? Hitungan jam berikutnya menentukan.
Di level timnas, tidak kalah sengitnya klaim-klaim penggemar yang mengaku sebagai fans garis keras; Prancis, Spanyol, Argentina atau Brasil. Di luar itu, masih ada Inggris, Portugal atau Maroko yang maju pesat. Menariknya karena penikmat kulit bundar ini sudah terintegrasi secara digital. Ruang maya sesak oleh interaksi penggemar yang tanpa batas (borderless). Mereka saling bersinggungan seperti sebuah “suku” (tribe) yang cinta mati pada idolanya.
Saat nonton bareng, penonton terbelah pada kelompok masing-masing. Mereka membangun identitas bersama. Nobar tidak lagi plural tetapi terbagi atas dua kutub, sesuai tim yang bertanding. Jargonnya “mendukung tim yang sama adalah kita, mendukung tim yang beda adalah mereka”. Duduk terpisah dan bersorak bergantian. Saat bola menembus jala gawang, kubu satu kegirangan manakala kubu lain lemas. Kontras.
Tribalisme (pengelompokan) menciptakan simbol bersama, idola yang sama. Mereka menamakan kelompoknya sebagai fans militan; Argentina, Spanyol, Prancis atau Brasil. Solidaritas terbentuk spontan sehingga sesama mereka (sekelompok) saling memperkuat kelompok. Persepsinya, pokoknya di luar kelompok mereka adalah “musuh”. Secara personal mereka membentengi diri sebagai fans Messi, fans CR7, atau fans Mbappe. Media sosial sebagai social network semakin menegaskan perilaku tribalisme itu. Bayangkan betapa tajam gap antara netizen. Jumlah follower Messi dan Ronaldo di medsos mencapai ratusan juta. Di level negara juga demikian, menjadi pengikut setia tim andalannya.
Mereka adalah fandom yang memperkenalkan kelompoknya sebagai bagian dari timnas kesayangan. “Kami Argentina”, “Dia Spanyol” atau “Kamu Brasil”, “Mereka Prancis”. Identitas itu dipertegas dengan aksesori setiap negara yang didukung. Jika perlu, memakai jersey atau emblem timnas idola. Bisa juga dengan mengecat wajah dengan lukisan bendera.
Tribalisme sering dijumpai di banyak daerah, satu kampung beragam dukungan.
Identitas kolektif bukan lagi karena kesamaan daerah melainkan pemain dan negara favorit. Publik memiliki kesamaan rasa yang melahirkan simbol identitas. Pentas global adalah juga pentas lokal yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Bagaimana mungkin, masyarakat Bangladesh di Asia begitu menggilai Argentina di benua berbeda. Sampai-sampai mereka berkonvoi setiap pertandingan Argentina usai. Puncaknya empat tahun silam di Qatar.
Kenapa Bangladesh memuja selangit Argentina padahal secara geografis sangat jauh. Faktor sejarah juga tidak ada, hubungan strategis antarnegara nyaris tidak terdengar. Bahasa tidak nyambung. Masyarakatnya tidak bersinggungan. Tapi mengapa penggemar sepak bola lokal eforia saat Tim Tango menang? Mereka sudah membangun indentitas bersama sebagai bagian dari Argentina. Setidaknya secara emosional.
Meski level berbeda, timnas Brasil juga disegani di banyak negara. Jepang, India, atau negara-negara gurun adalah sebagian kecil yang mengagumi Tim Samba. Secara logis kekaguman itu disebabkan kelompok-kelompok penggemar sepak bola takjub akan seni dan keindahan punggawa Brasil mentas di lapangan hijau. Mereka bukan pemain tapi penari. Mereka tidak bermain bola tapi atraksi bola. Mereka penganut jogo bonito.
Inilah yang dinamakan identifikasi simbolik. Kelompok-kelompok tersebut mengidentifikasi idolanya dengan label tertentu. Brasil identik permainan indah. Atau Argentina dilambangkan perjuangan. Sebagaimana halnya Messi disimbolkan kesedehanaan dan bakat alami, sementara CR7 sebagai mesin, kedisiplinan, dan kerja keras.
Bagaimana kamu dan komunitas kamu, dukung siapa?












