Ruslan Ramli, Dosen Universitas Esa Unggul.
STARNEWSID.COM, JAKARTA— Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari menuju laga puncak. Minggu nanti adalah grand final yang menutup kenduri akbar seantero jagad ini. Kebiasaan begadang dan menunda berangkat kerja ke kantor pagi hari, tinggal cerita. Semua bergerak normal kembali, penggemar bola tanah air beraktivitas siang hari dan istirahat malamnya.
Empat negara berhasil menyegel tiket ke babak semifinal: Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina. Sesuai peringkat update FIFA, edisi di Benua Amerika ini sangat ideal. Mereka adalah tim elite dunia di posisi big four. Les Bleus kokoh di papan atas dengan koleksi 1948,97 poin disusul Albiceleste (1944,47), La Furia Roja (1934,79), dan The Three Lions (1889,42).
Formasi keren itu membuat titel menuju ujung turnamen kemudian sarat label, “juara adalah pemilik tradisi”, “juara tak ke mana-mana” atau “sepakbola modern adalah pemenangnya”. Beda ajang serupa di Qatar, Kroasia dan Maroko membuat kejutan lolos ke empat besar. Atau di Rusia empat tahun sebelumnya, Belgia dan Kroasia membuka mata dunia tentang kehebatan “tim-tim kuda hitam” yang menembus semifinal. Hari ini, tak ada yang istimewa, no debutan, dan keberuntungan menjauh. Sebab empat negara ini adalah pemenang Piala Dunia di edisi berbeda.
Jadi, siapa sangsi dengan mereka? Nada minor di medsos hanya riak kecil karena Argentina, Prancis, Inggris, dan Spanyol adalah “bangsawan” lapangan hijau. Mereka dominan di turnamen dan langganan Piala Dunia. Bandingkan Belgia, Norwegia, Swiss, dan Portugal yang jadi lawan-lawannya di babak knock out, mereka masih nirgelar. Gradenya setengah strip dari mereka.
Tanjung Verde sempat memikat namun angkat koper. Belum teruji sebab ini piala dunia pertamanya. Curacao, Jordania atau tim Asia lainnya juga butuh waktu untuk bersaing ke level dunia. Kasta mereka jauh di bawah para semifinalis.
Banyak alasan kenapa mereka hebat. Kita harus jujur mengakui bahwa kompetisi domestik mereka memang berkualitas. Ekosistem sepakbolanya hidup, aura penontonnya kuat, permainannya lugas, didukung oleh aturan dan wasit yang tegas. Selalu menarik ditonton karena menyajikan aroma persaingan, perjuangan, dan prestise.
Pada sisi prestasi, klub-klub Prancis, Spanyol maupun Inggris dominan di Eropa. Bergantian mereka angkat trofi juara. Terakhir Dembele raih pemain terbaik dunia dan Paris Saint Germain rebut Champions League. Mereka kebanggaan Prancis. Di benua seberang, Boca Juniors, River Plate, atau Independiente adalah tim-tim Argentina yang melegenda dan disegani di Amerika Selatan.
Jadi, kontestan tersisa adalah keturunan “darah biru” FIFA. Capaian gelar yang mereka miliki menunjukkan aristokratnya di lapangan. Di luar mereka, paling ada Jerman dan Brasil. Sejak dulu atmosfir kompetisinya sudah bergulir. Apa yang diraih hari ini tidak turun dari langit secara tiba-tiba tetapi melalui proses panjang. Jatuh bangun mereka mengawal kompetisi.
Tiada kata lelah, lebih dari seabad asosiasi sepakbola mereka mengembangkan olahraga paling populer ini. Membina klub dan melahirkan bakat alami, membentuk tim nasional lewat seleksi pemain yang berlapis. Tim scouting rela keluar-masuk kampung mencari talenta murni. Gizinya dijaga, latihan reguler. Jadi klise bagi mereka memetik hasil di event besar.
Kompetisi mereka berjalan teratur. Di Inggris, kompetisinya berlapis-lapis untuk bisa berlaga di liga utama. Premier League adalah . Di kasta tertinggi itu, ratusan klub berebut Sang Juara Milik Bangsawan Sepakbola
Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari menuju laga puncak. Minggu nanti adalah grand final yang menutup kenduri akbar seantero jagad ini. Kebiasaan begadang dan menunda berangkat kerja ke kantor pagi hari, tinggal cerita. Semua bergerak normal kembali, penggemar bola tanah air beraktivitas siang hari dan istirahat malamnya.
Empat negara berhasil menyegel tiket ke babak semifinal: Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina. Sesuai peringkat terbaru FIFA, edisi di Benua Amerika ini sangat ideal. Mereka adalah tim elite dunia di posisi big four. Les Bleus kokoh di papan atas dengan koleksi 1948,97 poin disusul Albiceleste (1944,47), La Furia Roja (1934,79), dan The Three Lions (1889,42).
Formasi keren itu membuat titel menuju ujung turnamen kemudian sarat label, “juara adalah pemilik tradisi”, “juara tak ke mana-mana” atau “sepakbola modern adalah pemenangnya”. Beda ajang serupa di Qatar, Kroasia dan Maroko membuat kejutan lolos ke empat besar. Atau di Rusia sebelumnya, Belgia dan Kroasia membuka mata dunia tentang kehebatan “tim-tim kuda hitam” yang menembus empat besar. Hari ini, tak ada yang istimewa, tanpa debutan, bahkan keberuntungan. Sebab empat negara ini adalah pemenang Piala Dunia di edisi berbeda.
Jadi, siapa sangsi dengan mereka? Nada minor di medsos hanya riak karena Argentina, Prancis, Inggris, dan Spanyol adalah “bangsawan” lapangan hijau. Meteka dominan dan langganan Piala Dunia. Bandingkan perempatfinalis lainnya, Belgia, Norwegia, Swiss, dan Portugal yang masih nirgelar.
Tanjung Verde sempat memikat namun angkat koper. Belum teruji sebab ini piala dunia pertamanya. Curacao, Yordania atau tim Asia lainnya juga butuh waktu untuk bersaing ke level dunia. Kasta mereka jauh di bawah para semifinalis.
Banyak alasan kenapa mereka hebat. Kita harus jujur mengakui bahwa kompetisi domestik mereka memang berkualitas, aura penontonnya kuat, permainannya apik, wasitnya tegas. Selalu menarik ditonton karena menyajikan persaingan dan perjuangan.
Dari sisi prestasi, klub-klub Prancis, Spanyol maupun Inggris dominan di Eropa. Bergantian mereka angkat trofi juara. Di benua seberang, Boca Juniors, River Plate, atau Independiente adalah tim-tim Argentina yang melegenda bersama Santos, Sao Paulo, atau Flamengo milik Brasil. Tim Tango disegani di Amerika Selatan.
Jadi, kontestan tersisa adalah keturunan “darah biru” FIFA. Raihan gelar yang mereka miliki menunjukkan aristokratnya di lapangan. Sejak dulu ekosistem kompetisinya sudah bergulir. Pencapaiannya tidak turun dari langit secara tiba-tiba tteapi melalui proses panjang. Jatuh bangun mereka mengawal kompetisi.
Tiada kata lelah, lebih dari seabad asosiasi sepakbola mereka mengembangkan olahraga paling populer ini. Membina klub dan melahirkan bakat alami, membentuk tim nasional lewat seleksi pemain yang berlapis. Tim scouting rela keluar-masuk kampung mencari talenta murni. Gizinya dijaga, latihan reguler. Jadi klise bagi mereka memetik hasil di event besar.
Kompetisi mereka berjalan teratur. Di Inggris, tiga jenjang kompetisi untuk bisa berlaga di Liga Primer. Premier League adalah kasta tertinggi yang cuma berisi 20 klub. Semua berebut tembus ke sana. FA memakai pola piramid dengan sistem promosi-degradasi. Lancip di atas, lebar di bawah. Tiga klub teratas di liga dapat promosi, tiga di dasar klasemen otomatis degradasi. Makanya tampil di Premier League adalah impian setiap klub ataupun pemain di negeri Raja Charles itu.
Masih di Eropa, Spanyol, Prancis, Belanda juga punya sekolah sepakbola. Setiap klub membina pemain muda yang dipersiapkan ke timnas. Akademi La Masia di Catalunya adalah pabrik Barcelona. Messi, Fabregas, hingga Lamine Yamal produknya.
Argentina apalagi, pemainnya sudah terikat kontrak saat masih berstatus junior. Pencari bakat dari klub-klub besar Eropa sudi mengeluarkan euro aktif ke desa-desa kecil untuk menemukan “Maradona” dan “Messi” cilik. Albiceleste tak pernah kehabisan stok. Kadang saking banyaknya, pelatih bingung sendiri menentukan starting eleven.
Kehebatan tersebut diperkuat oleh budaya sepakbola yang benar-benar sudah berakar. Tunas tumbuh di mana-mana. Bertahun-tahun sepakbola telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Bagi mereka, sepakbola adalah jalan pintas menuju bintang. Gaji selangit, status sosial melejit. Sebagian beranggapan sepakbola jaminan hidup dan masa depan. Dibanding sekolah formal, banyak yang memilih ke lapangan. Sepakbola bukan lagi pemain melainkan selebriti.
Tentang pemain dari masing-masing negara, mending lupakan saja. Gelar ballon d’or, transfer dan gaji tertinggi hingga kepemilkan properti ada pada mereka. Reputasi tak jauh-jauh di antara merela.
Match final di New Jersey nanti menahbiskan bahwa gelar juara akan balik ke rumah besarnya, tempat klub dan pemain bintang ditempa dalam kompetisi berkelas. Siapapun juara, penggemar sepakbola tulen bakal menerimanya. Jikalau ada suara sumbang, itu hanya sesaat yang meramaikan mesos. Satu di antara mereka sangat layak membawa pulang trofi ke negaranya. Entah Prancis yang mengejar tiga bintang, Spanyol yang berambisi mengulang golden memory 2010. Atau Argentina yang mengusung misi back to back.
Inggris apalagi, the three lions terobsesi piala dunia tahun ini karena sudah menantinya 60 tahun. Generasi emas silih berganti datang mengisi skuad timnas sejak era Keegan, Robson, hingga Beckham. Satu tekad membawa pulang piala ke tanah leluhur sesuai tagline “football is coming home”.
Takdir juara adalah DNA sepakbola yang berakar di luar maupun dalam lapangan, bukan keajaiban. Maaf fans militan Brasil, Jerman. Maaf juga Portugal, Belanda. Kali ini bukan momen Anda. Selamat menonton.
slot. FA memakai pola piramid dengan sistem promosi-degradasi. Lancip di atas, lebar di bawah. Tiga klub teratas di liga dapat promosi, tiga di dasar klasemen otomatis degradasi. Makanya tampil di Premier League adalah impian setiap klub ataupun pemain di negeri Raja Charles itu.
Masih di Eropa, Spanyol, Prancis, Belanda juga punya sekolah sepakbola. Setiap klub membina pemain muda yang dipersiapkan ke timnas. Akademi La Masia di Catalunya adalah pabrik Barcelona. Messi, Fabregas, hingga Lamine Yamal produknya.
Argentina apalagi, pemainnya sudah terikat kontrak saat masih berstatus junior. Pencari bakat dari klub-klub besar Eropa sudi mengeluarkan euro aktif ke desa-desa kecil untuk menemukan “Maradona” dan “Messi” cilik. Albiceleste tak pernah kehabisan stok. Kadang saking banyaknya, pelatih bingung sendiri menentukan starting eleven.
Kehebatan tersebut diperkuat oleh budaya sepakbola yang benar-bemar sudah berakar. Tunas tumbuh di mana-mana. Bertahun-tahun sepakbola telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Bagi mereka, sepakbola adalah jalan pintas menuju bintang. Gaji selangit, status sosial melejit. Sebagian beranggapan sepakbola jaminan hidup dan masa depan. Dibanding sekolah formal, banyak yang memilih ke lapangan. Sepakbola bukan lagi pemain melainkan selebriti.
Tentang pemain dari masing-masing negara, mending lupakan saja. Gelar ballon d’or, transfer san gaji tertinggi hingga kepemilkan properti ada pada mereka. Reputasi tak jauh-jauh di antara merela.
Match final di New Jersey nanti menahbiskan bahwa gelar juara akan balik ke rumah besarnya, tempat klub dan pemain bintang ditempa dalam kompetisi berkelas. Siapapun juara, penggemar sepakbola tulen bakal menerimanya. Jikalau ada suara sumbang, itu hanya sesaat yang meramaikan mesos. Satu di antara mereka sangat layak membawa pulang trofi ke negaranya. Entah Prancis yang mengejar tiga bintang, Spanyol yang berambisi mengulang golden memory 2010. Atau Argentina yang mengusung misi back to back.
Inggris apalagi, the three lions terobsesi piala dunia tahun ini karena sudah menantinya 60 tahun. Generasi emas silih berganti datang mengisi skuad timnas sejak era Keegan, Robson, hingga Beckham. Satu tekad membawa pulang piala ke tanah leluhur sesuai tagline “football is coming home”.
Takdir juara adalah DNA sepakbola yang berakar di luar maupun dalam lapangan, bukan keajaiban. Maaf fans militan Brasil, Jerman. Maaf juga Portugal, Belanda. Kali ini bukan momen Anda. Selamat menonton.(*)











