STARNEWSID.COM,MANUJU— Peternakan ayam modern kini hadir di Kabupaten Gowa. Lokasinya di Dusun Kaballokang, Desa Moncongloe, Kecamatan Manuju.
Peternakan ayam yang diberi nama Close House Mappaseling Farm itu diresmikan oleh Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo, Rabu (22/3/2023).
Mentan Syahrul dalam sambutannya menyampaikan, bahwa persoalan pangan menjadi hal kebutuhan nomor satu saat ini.
Mantan Gubernur Sulsel dua periode itu mengungkapkan, ketahanan pangan sangat identik dengan ketahanan negara
“Apa yang dilakukan hari ini adalah bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat,” ujar Mentan Syahrul.
Mentan menerangkan, pengembangan kandang peternakan ayam dengan sistem clouse housed di Mappaseling Farm sebagai bentuk komitmen sektor swasta dan pemerintah dalam menyiapkan protein hewani murah bagi masyarakat.
Dengan menggunakan teknologi, maka produksi yang dihasilkan nantinya akan lebih efisien.
“Closed house adalah salah satu teknik modern yang ada untuk pemeliharaan ayam secara efisien baik itu ayam petelur maupun ayam peternak. Kurang lebih efisiensinya sampai 30 persen dibanding dengan kandang yang terbuka. Kemudian adalah tingkat mortalitas atau kematian ini juga menentukan tingkat keuntungan dari sebuah usaha peternak. Ketiga adalah nilai tambah yang masuk dengan yang dihasilkan harus seimbang dan harus untung,” papar Mentan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Kamsina menyambut positif pengembangan peternakan ayam Mappaseling Farm.
Kamsina meyakini, Mappaseling Farm dengan sistem teknologi ini akan meningkatkan produktivitas ayam ras di Kabupaten Gowa yang meningkat pesat dalam kurun lima tahun terakhir.
Mantan Camat Pallangga itu menyebutkan, pada tahun 2022 lalu, populasi ayam potong di Kabupaten Gowa mencapai 2.100.000 ekor. Angka itu, belum termasuk dengan pengembangan peternakan yang baru dikelola ini.
“Jadi periode produksinya tergolong cepat yakni rata-rata sebanyak 6 kali setahun,” ungkapnya.
Dengan populasi besar tersebut, lanjut Kamsina, Kabupaten Gowa dapat menghasilkan sekitar 17 juta ton karkas ayam potong dalam setahun.
Sementara penghasilan ini jauh lebih tinggi dari kebutuhan masyarakat di Kabupaten Gowa yang hanya sekitar 6,2 juta ton pertahun. Hal ini menandakan bahwa terjadi surplus sekitar 10,8 juta ton ayam potong per tahun.
“Kondisi ini pun telah memberikan kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat Sulawesi Selatan khususnya pelanggan terbesar Kota Makassar,” ungkapnya.
Kamsina mengakui, perkembangan populasi ayam broiler tidak terlepas dari penerapan tekhnologi pemeliharaan unggas secara modern yang tercipta melalui kerja sama antara pihak swasta dengan peternak yang lebih dikenal dengan nama kemitraan.
“Kami sangat senang dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para investor agar dapat ambil bagian mengembangkan peternakan ayam di Kabupaten Gowa. Apalagi hampir 100 persen peternak ayam disini dikelola dalam bentuk kemitraan yang berarti peternakan mandiri sudah tidak ada lagi,” katanya.
Sementara itu, Direktur Mappaseling Farm House, Farouk M. Beta mengatakan bahwa tujuan dirinya mengembangkan usaha ini di Kabupaten Gowa karena berdasar niat tulus untuk berkontribusi kepada pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat.
“Kami beserta manajemen Farm House bertekad untuk memajukan dan mengembangkan usaha ini karena peternakan ini harus maju, masyarakatnya juga harus maju. Sehingga negara pun harus tercukupi kebutuhan pangannya,” tandasnya. (rus)












