oleh: Ruslan Ramli
Dosen Fikom Universitas Esa Unggul, Jakarta
Hotel Bintang Dua Pakai Robot
Pekan lalu, kesempatan berharga saya peroleh dengan berkunjung ke China, tepatnya di Guangzhou, ibu kota Provinsi Guandong di sebelah selatan daratan China. Menyebut China, pikiran saya melayang jauh ke produksi teknologi modern yang serba komplit. Sejak dulu telinga saya sering mendengarkan ungkapan barang-barang murah terbuat dari China. Kerap juga melihat barang impor bertuliskan “made in China”.

Indonesia dibanjiri produk buatan Negeri Panda itu, apalagi manufaktur selain elektronik. Media sosial kita juga diserbu video tentang kehebatan teknologi China. Di bidang pertanian, petani lokal sudah menggunakan bantuan teknologi dari penanaman hingga panen raya. Dengan dukungan teknologi, ada rekayasa pertanian yang mempercepat produksi dengan kualitas padi yang baik. Lalu tenaga manusia diambil alih teknologi yang bekerja lebih efektif dan efisien. Untuk bukti, coba deh buka youtube!
Kemajuan teknologi China saya saksikan langsung di Hanting Hotel, Wushan Branch, tempat saya menginap, yang sudah memanfaatkan jasa robot. So far, hanya membaca berita robot-robot membantu tugas perawat rumah sakit, terutama saat Pandemi Covid-19 mengganas empat tahun lalu. “Manusia mesin” itu membawa obat-obatan maupun menu makanan ke bangsal pasien. Mereka menggantikan peran paramedis agar tidak berinteraksi langsung dengan penderita covid.
Meskipun kelas bintang dua, Hanting Hotel menyiapkan robot untuk berbagi pekerjaan dengan karyawan. Bentuknya tidak mirip manusia seperti bentuk robot kebanyakan, melainkan hanya sebuah kotak yang lebih menyerupai dispenser. Kotak itu berukuran 100 x 40 sentimeter, warnanya putih. Ia dirancang khusus meladeni pesanan barang tamu-tamu hotel.
Robot ini bertugas mengantarkan pesanan ke kamar pengunjung. Ia bekerja sesuai sistem yang sudah diatur. Sebuah layar monitor berukuran 20 x 15 sentimeter di bagian atas. Di situ, tertera tools berhuruf China dan berbahasa Inggris. Tulisannya berisi perintah ke mesin. Di sisi tengah, ada ruang kosong yang berfungsi sebagai penyimpanan barang. Lalu dengan menekan tombol-tombol tersebut, secara otomatis ia akan bergerak sesuai perintah.
Pengunjung hotel yang memesan makanan atau minuman melalui ojek online misalnya, mereka tinggal menunggu di kamar. Duduk manis, tak perlu turun ke lobi mengambil pesanannya karena keberadaan robot tersebut. Setelah diaktifkan, robot akan membawa orderan sampai di depan kamar pengunjung.
Menariknya, robot itu seperti paham dengan lingkungan hotel. Sistem kerjanya sudah diintegrasikan. Ia akan berhenti di depan lift sampai lift tersebut terbuka. Ia akan masuk dan keluar lift secara otomatis tanpa bantuan karyawan melainkan pengaturan sistem yang sudah terbangun di hotel tersebut. Seperti manusia, ia bisa belok kanan- kiri atau lurus menuju kamar yang dituju.
Setelah pesanan diterima pengunjung, robot itu akan kembali ke tempatnya semula di lobi. Keberadaannya seolah-olah sudah dikenal baik oleh lift. Ia masuk dan keluar dari lift tanpa asistensi karyawan. Durasi pengantaran dari lobi ke kamar sangat standar, tergantung posisi kamarnya. Kisarannya 5-10 menit. Semakin di atas lantainya, semakin lama. Atau sebaliknya semakin di bawah, semakin cepat.
Hotel Hanting terletak di Wushan Rd, sisi Timur dari pusat keramaian Guangzhou. Ia bukanlah hotel mewah, namun sangat standar dengan jumlah kamar yang hanya puluhan. Gedungnya berlantai delapan persis di sisi jalan raya. Karyawannya minimalis. Manajemennya amat efisien mempekerjakan warga lokal. Hanya dua karyawan di lobi, seorang pelayan restoran. Resepsionis yang mengatur pelayanan tamu dan pengujung, dari urusan pemesanan kamar, check in dan check out, transaksi, etc.
Malam hari, seorang sekuriti menemani resepsionis hingga pagi hari. Ukuran lobinya kecil, tak ada sofa melainkan sepasang kursi dan meja kecil. Pengamanan sedikit lebih mudah sebab hotel ini tanpa halaman dan tempat parkir. Hotel ini benar-benar digunakan pengunjung untuk urusan singkat di Wushan. Cukup dengan CCTV yang dipasang di sudut ruangan, petugas hotel dapat memantau situasi lobi.
Kehadiran robot tadi sungguh meringankan kerja karyawan. Ia stand by di depan lift, menunggu perintah. Untuk menambah daya agar stabil bertugas, robot ini dipasangi kabel yang selalu terhubung ke colokan. Dengan sistem elektrik ini, robot tersebut mampu menerjemahkan perintah dari penggunanya.
Jika hotel sekelas Hanting saja memanfaatkan robot, bagaimana korporasi China lainnya. Tentu kualitas “manusia-manusia besi” itu jauh lebih “pintar” sebagaimana kita menyaksikan industri otomotif lokal, public relations officer perkantoran, presenter televisi hingga lembaga layanan publik sudah memberdayakan robot.
Bagaimana di tanah air, kita tunggu. (*)






oleh: Ruslan Ramli






