Widyaiswara Pusbangkom SDM Kemenag Dorong Pengembangan Kompetensi ASN melalui Living Curriculum Framework

STARNEWSID.COM, JAKARTA  — Gagasan penguatan pengembangan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui pendekatan Corporate University (CorpU) Kementerian Agama menjadi salah satu topik yang dipresentasikan dalam kegiatan Konferensi Ilmiah Fasilitator dan Trainer yang di selenggarakan BDK Denpasar oleh Nuraini, Widyaiswara Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan Kementerian Agama.

Dalam presentasinya, Nuraini menyampaikan hasil pemikiran yang dituangkan dalam artikel berjudul “Widyaiswara sebagai Co-Creator: Living Curriculum Framework untuk Corporate University Kemenag yang Adaptif”. Artikel tersebut menyoroti pentingnya perubahan paradigma pengembangan kompetensi ASN, dari sistem pelatihan yang bersifat konvensional menuju ekosistem pembelajaran yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Menurut Nuraini keberhasilan Corporate University Kementerian Agama tidak hanya bergantung pada tersedianya program pelatihan, tetapi juga pada kemampuan organisasi dalam membangun sistem pembelajaran yang terus berkembang sesuai kebutuhan. Salah satu tantangan yang ditemukan adalah perlunya percepatan pembaruan kurikulum dan penguatan keterlibatan widyaiswara dalam proses penyusunannya.

Bacaan Lainnya

Melalui kajian terhadap Survei Kepuasan Pengguna Produk Sistem Pelatihan Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan Tahun 2025, penelitian menunjukkan bahwa meskipun tingkat kepuasan terhadap sistem pelatihan berada pada kategori puas, masih terdapat kebutuhan untuk memperkuat relevansi dan fleksibilitas kurikulum. Khusus pada aspek kurikulum, ditemukan adanya perbedaan persepsi antara pengelola dan widyaiswara sebagai pelaksana pembelajaran.

Sebagai solusi, Nuraini menawarkan konsep Living Curriculum Framework (LCF), yaitu model pengembangan kurikulum yang menjadikan kurikulum sebagai sistem yang terus hidup dan diperbarui melalui kolaborasi. Dalam model ini, widyaiswara tidak hanya berperan sebagai pengguna kurikulum, tetapi sebagai co-creator yang aktif memberikan kontribusi berdasarkan pengalaman dan kebutuhan pembelajaran di lapangan.

LCF dibangun melalui tiga strategi utama, yaitu penguatan Community of Practice (CoP) sebagai ruang kolaborasi widyaiswara, pengembangan kurikulum berbasis modul yang lebih fleksibel, serta pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan untuk mendukung evaluasi dan pembaruan kurikulum secara berkelanjutan.

Melalui gagasan ini, Corporate University Kementerian Agama diharapkan tidak hanya menjadi sistem pelatihan, tetapi menjadi ekosistem pembelajaran strategis yang mampu meningkatkan kompetensi ASN secara berkelanjutan dan mendukung transformasi organisasi.(*)

Pos terkait