Curhat Petani Soal Tambang Liar di DAS Jeneberang : Irigasi Dirusak, Panen Sisa Sekali Setahun

RUSAK IRIGASI--- Aktivitas tambang liar di DAS Jeneberang direkam beberapa waktu lalu. Penambangan tanpa izin ikut merusak irigasi pertanian. (Foto : Rusli Haisarni)

STARNEWSID.COM,GOWA—Aktivitas penambangan liar di DAS Jeneberang membias ke lahan persawahan. Tak hanya menghancurkan bangunan penahan pasir (Sand Pocket). Irigasi pertanian juga ikut dirusak.

Petani yang menggantungkan hidup pada areal persawahan pun kena getahnya. Akibat irigasi yang tidak berfungsi, panen petani sangat merosot.

Haji Bali, salah seorang petani di Desa Borisallo, kecamatan Parangloe, Gowa sangat merasakan dampak negatif penambangan liar.

Bacaan Lainnya

Sawahnya seluas 1 hektare lebih yang berada di dekat Sand Pocket 2, tak lagi berproduksi normal.

Setelah irigasi dirusak oleh oknum penambang liar, rutinitas panen yang sebelumnya tiga kali dalam satu tahun, kini tersisa satu kali setahun saja.

“Semenjak irigasi rusak disusul jebolnya sand pocket tahun 2019 silam, produksi panen terus berkurang. Sawah kami sisa mengandalkan tadah hujan. Dahulunya saat irigasi berfungsi, kami bisa panen padi tiga kali setahun,” tutur Haji Bali kepada wartawan di kediaman pribadinya, Selasa (20/9/2022).

Ia mengungkapkan, sebelum irigasi rusak, biasanya sekali panen mencapai 100 karung padi lebih. Sekarang sisa 10 karung saja. Penderitaan petani bukan hanya sampai disitu saja. Kata Haji Bali, areal sawah miliknya juga terus berkurang.

“Areal sawah kami itu terus terkikis oleh alat berat,” ungkapnya.

Haji Bali menyebutkan, panjang irigasi yang rusak diperkirakan 200 meter. “Kondisi irigasi itu terhalang material,” sebutnya.

Haji Bali bersama puluhan petani lainnya yang ikut terdampak telah berupaya mencoba mengganti tanaman padi dengan menanam kacang dan jagung. Hanya saja, hasilnya tak sesuai ekspektasi.

“Kacang dan jagung tidak bisa diandalkan. Sedikit sekali hasilnya. Sementara bibitnya juga sangat mahal,” bebernya.

Kegetiran senada juga dilontarkan petani lainnya, Syahriani Ugi. “Inimi (tambang,red) yang buat petani menderita. Biasanya bisa panen tiga kali dalam setahun, sekarang tinggal satu kali. Itupun hasilnya sedikit sekali,” ketusnya.

Kades Borisallo, Sofyan sangat prihatin dengan kondisi yang dialami petani di wilayahnya. Ia berharap, pihak terkait bisa turun tangan membantu memperbaiki irigasi pertanian yang rusak.

“Harapan kami Balai Pompengan dan Pemkab dapat membantu,” ucapnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gowa, Muh Fajaruddin yang dikonfirmasi terpisah berjanji akan menindaklanjuti keluhan petani tersebut. Bekas Camat Pattallassang itu akan turun melihat kondisi irigasi yang rusak.

“Saya akan suruh cek di lapangan kondisi irigasinya,” tegasnya singkat.(rus)

Pos terkait