Bisnis No 1, Kuliah No 2

Mahasiswa asal Indonesia menggelar Seminar and Talk di Baiyoun Hotel. Panitia dan anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok berpose dengan para narasumber

STARNEWSID.COM, WUSHAN, CHINA— Tidak ada data valid yang saya miliki tentang berapa banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di China. Kata China Daily, per Oktober tahun ini tidak kurang dari 150.000 mahasiswa Indonesia yang lagi menempuh kuliah di China.

Angka ini tumbuh pasca pandemi covid-19 empat tahun lalu. Dan, diprediksi masih akan naik seiring besarnya stimulan beasiswa yang ditawarkan pemerintah China. Kebijakannya membuka peluang orang asing lanjut studi di universitas dalam negeri.

Ruslan Ramli
Dosen Fikom Universitas Esa Unggul

Apalagi ditopang program Presiden Xi Jing Ping melalui Belt and Road Initiative (BRI) yang ingin memperkuat kerja sama China dengan negara-negara lain. Negeri adidaya ini ingin mengambil peran strategis secara global.

Bacaan Lainnya

Sejak tiba di Guangzhou Rabu dinihari, banyak insight baru yang saya serap dari mahasiswa asal Indonesia. Salah satunya tentang motif kuliah di provinsi tetangga Hong Kong ini. Menuntut ilmu adalah jawaban klise. Atau mencari pengalaman belajar di luar.

Sejujurnya motif pragmatis mereka adalah magang bisnis. Mereka “diasingkan” di China untuk mengenal model bisnis secara dini. Apalagi keluarga mahasiswa yang berlatar swasta, China yang mumpuni soal urusan bisnis adalah tempat terbaik belajar bisnis. Maka, dikirimlah mereka ke China untuk mengeksplor bagaimana cara orang-orang lokal berbisnis.

Rei, mahasiswa SCUT adalah contoh pebisnis kelas pemula. Pria asal Jakarta ini kuliah sambil bisnis. Awalnya mencoba jasa penitipan, kemudian beralih ke ban kendaraan berat. Ia bermitra dengan koleganya di tanah air. Tugasnya mencari produsen ban di seantero Guangzhou. Ia juga bernegosiasi soal harga, administrasi, perizinan dokumen, hingga pengiriman ke kota tujuan.

“Tapi saya tetap kuliah kok. Bisnis kecil-kecil hanya untuk belajar saja. Dulu jastip karena kembali ke Indonesia tanpa bawaan,” kata mahasiswa semester lima jurusan Bahasa Mandarin dan Bisnis di SCUT Ini.

Bagi mahasiswa asal Indonesia, kebanyakan usaha jastip. Praktis sebab menjual bagasi. Tapi, kata dia, berisiko besar lantaran tidak tahu persis kemungkinan adanya barang terlarang.

Pilihannya konveksi dan sepatu, selain elektronik atau produk yang sedang trend. Boneka Labubu salah satunya. Sejak dipopulerkan personel Black Pink, hampir selalu jadi pesanan. Walaupun terlihat “jelek”, ramai pemesan.

Gallen mengingatkan kawan-kawannya untuk berhati- hati urus jastip. Terlihat mudah tapi rawan. ‘Kalau ada barang (terlarang), kan kecil. Tidak tahu bahwa itu berbahaya,” ujar Gallen.

Beda Cindy, mahasiswa Jinan University ini lebih memilih fokus di akademik. Kalaupun pumya job side, ia tertarik mengajar Bahasa Mandarin-Indonesia atau sebaliknya. Ia ingin memperdalam Bahasa Mandarin sebagai bekal masa depannya sepulang ke Indonesia. “Maunya begitu. Lihat ke depan lagi bagaimana, “ucap gadis asal Pekanbaru ini.

Di luar itu, Cindy tertantang di bidang pariwisata. Ia pernah melancong jauh di daratan China untuk mengenal lebih jauh dunia tour guide. Apalagi ia senang pelajaran sejarah dan budaya yang begitu kuat di negara adidaya ini. “Senang juga jadi guide,” katanya.

China dengan penduduk lebih semiliar memunculkan kompetisi. Sehingga untuk survive, mau tak mau mereka harus tangguh. Cekatan dan intuitif melihat celah. Mana yang prospektif dan menjanjikan. Urusan begini, memang China jagonya.

Makanya, bisnis nomor satu kan, dan kuliah nomor 2 kan? Setuju oke, tidak setuju juga tidak masalah. Yang penting mereka sudah kenyang pengalaman di rantau.(*)

Pos terkait