Tingkatkan Pengelolaan Sumber Daya Air, BBWSPJ Gandeng Semua Stake Holder

KOLABORASI PENGELOLAAN SDA--- PPK OPSDA III Satker OP BBWSPJ, Asriani, ST,MT (duduk keempat dari kanan) selaku Ketua Panitia Kegiatan Pembinaan Kemitraan Pemerintah, Perguruan Tinggi Dan Komunitas Peduli Sungai di Wilayah Sungai Jeneberang berfoto bersama dengan narasumber dan peserta di Hotel Grand Maleo, Makassar, Selasa, 8 November 2022.(Foto : Rusli Haisarni)

STARNEWSID.COM,MAKASSAR—BBWS-Pompengan Jeneberang Ditjen SDA Kementerian PUPR mengajak semua stake holder untuk menjaga Sumber Daya Air (SDA).

Kolaborasi semua pihak sangat krusial dalam membantu meningkatkan pengelolaan SDA.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pembinaan Kemitraan Pemerintah, Perguruan Tinggi Dan Komunitas Peduli Sungai di Wilayah Sungai Jeneberang yang dilaksanakan oleh BBWS Pompengan Jeneberang di Hotel Grand Maleo, Makassar, Selasa, 8 November 2022.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang dibuka oleh Kepala BBWS Pompengan Jeneberang diwakili Subkor Pelaksanaan OP, Firdaus itu diikuti oleh sekitar 40 komunitas peduli sungai, perwakilan instansi terkait dan mahasiswa.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) OPSDA III selaku Ketua Panitia, Asriani dalam laporannya menyampaikan, kegiatan pembinaan kemitraan pemerintah, perguruan tinggi dan komunitas sungai mencakup empat wilayah Sungai.

Khusus Sungai Jeneberang merupakan kegiatan yang keempat. Sebelumnya, pada Oktober 2022 lalu, pihaknya telah melaksanakan kegiatan serupa di Sengkang, Wajo untuk Wilayah Sungai (WS) Walanae-Cenrana.

Kemudian untuk WS Pompengan Larona dilaksanakan di Palopo. Sedangkan WS Saddang digelar di Pinrang.

“Tujuan dari kegiatan ini untuk peningkatan kolaborasi dan mengembangkan kesadaran serta kepedulian semua stake holder dalam menjaga kelestarian sungai,” ujar Asriani.

Empat narasumber yang kompeten di bidang masing-masing dihadirkan dalam kegiatan itu. Masing-masing Dr Eng Hj Rita Tahir Lopa MT dari Universitas Hasanuddin selaku narasumber bidang sumber daya air.

Ratna Dewi dari PM-PTSP Pemprov Sulsel (narasumber bidang sosial ekonomi). Harun Effendy dari HATHI Sulsel (narasumber bidang hukum SDA), serta Kaharuddin Muji dari Forum Komunitas Peduli SDA Sulsel (narasumber bidang kelembagaan).

“Diharapkan kegiatan pembinaan kemitraan ini mendorong pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat secara luas mendapatkan kapasitas SDM dalam pengelolaan sumber daya air,” terang Asriani.

Akademisi Unhas, Dr Rita Tahir Lopa selaku narasumber bidang SDA mengungkapkan, sungai sebagai elemen utama SDA harus terus dijaga kelestariannya.

Untuk itu, dirinya mendorong peran maksimal komunitas peduli sungai yang dibentuk oleh BBWSPJ dalam menjaga sungai dari ancaman kerusakan.

“Komunitas peduli SDA ini harus bisa berperan sebagai polisi sungai. Selain menjaga, harus juga berani melaporkan kegiatan yang dapat merusak kelestarian sungai,” kata Dr Rita.

Hal senada juga dilontarkan narasumber lainnya, Kaharuddin Muji. Pria berambut gondrong itu menyebutkan, dalam UU Nomor 12 tentang pengelolaan SDA, komunitas peduli sungai merupakan garda terdepan.

“Pengelolaan Bendungan Bili-bili misalnya. Komunitas bisa terlibat membantu Balai Pompengan,” tukasnya.

Ketua Yayasan Peduli Lingkungan (YPL), Rais Fatta mengapresiasi kegiatan pembinaan kemitraan pemerintah, perguruan tinggi dan komunitas peduli sungai.

Menurut Rais, menjaga kelestarian Sungai tak hanya menjadi tanggung jawab Balai Pompengan saja. Akan tetapi butuh dukungan dan kerja sama dari semua stake holder.

Makanya, Balai selaku konteks penguasa wilayah harus membuka ruang komunitas peduli Sungai dalam rangka melahirkan kerja-kerja penyelamatan waduk.

“Kegiatan ini menjadi ruang bagi komunitas peduli sungai untuk membantu Balai dalam penyelamatan DAS. Apalagi, semua disiplin ilmu terlibat. Ada yang paham bangunan, sanitasi dan lingkungan,” tandas Rais.(rus)

Pos terkait