STARNEWSID.COM, MAKASSAR — Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik kilat dari Mekkah ke Yerusalem, lalu menuju Sidratul Muntaha. Di balik “mukjizat ruang dan waktu” ini, tersimpan simbolisme mendalam yang menjadi kompas spiritual bagi umat Muslim.
Berikut adalah bedah filosofi di balik elemen-elemen kunci peristiwa tersebut:
1. Mengapa Terjadi di Malam Hari? Malam sering kali diidentikkan dengan waktu istirahat, namun dalam kacamata spiritual, malam adalah waktu kekhusyukan dan kejernihan.
Simbol Ketenangan: Malam hari adalah saat gangguan duniawi (kebisingan dan kesibukan) mencapai titik terendah. Ini melambangkan bahwa untuk “bertemu” dengan Sang Pencipta, seseorang membutuhkan keheningan batin.
Ujian Keimanan: Secara logika manusia pada masa itu, perjalanan ribuan kilometer dalam semalam adalah mustahil. Terjadinya peristiwa ini di kegelapan malam menjadi ujian bagi akal; apakah manusia percaya pada hukum alam (fisika) atau pada Pemilik alam (Tauhid).
Waktu Mustajab: Dalam tradisi Islam, sepertiga malam adalah waktu paling sakral di mana doa-doa diangkat.
2. Mengapa Perjalanan dari Masjid ke Masjid? (Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa)
Perjalanan ini tidak langsung dimulai dari rumah Nabi ke langit, melainkan singgah di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa).
Simbol Konektivitas Agama Tauhid: Ini menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama baru, melainkan penyempurna dari risalah para nabi terdahulu. Masjidil Aqsa adalah pusat para Nabi Bani Israil, dan kehadiran Nabi Muhammad di sana melambangkan estafet kepemimpinan spiritual dunia.

Integrasi Bumi dan Langit: Menghubungkan dua titik di bumi sebelum menuju langit mengajarkan bahwa kesalehan ritual harus selaras dengan kesalehan sosial dan sejarah.
3. Mengapa Terjadi di Bulan Rajab? Bulan Rajab memiliki kedudukan khusus dalam kalender Hijriah sebagai salah satu Ashhurul Hurum (bulan yang dimuliakan).

Hadiah di Masa Sulit: Secara historis, peristiwa ini terjadi di Amul Huzni (Tahun Kesedihan), tak lama setelah Nabi kehilangan istri tercinta, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Bulan Rajab menjadi saksi pemberian “hadiah” berupa perjalanan ini untuk menghibur dan menguatkan hati Rasulullah.
Intisari: Isra Mi’raj mengajarkan kita bahwa untuk mencapai derajat yang tinggi (Mi’raj), kita harus memiliki keterikatan yang kuat dengan masjid, menjaga kejernihan hati di kala malam, dan senantiasa mempersiapkan diri di waktu-waktu yang telah Allah muliakan.(*)













