STARNEWSID.COM,PARANGLOE – Panitia Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih) memiliki tugas yang tidak ringan. Pantarlih adalah garda terdepan suksesnya pesta demokrasi pemilu.
Tanggung jawab besar yang diemban menuntut Pantarlih bekerja ekstra di lapangan. Tugas utamanya, mencoklit warga.
Demi tugas Coklit itu, petugas Pantarlih harus naik gunung. Bahkan menembus cuaca ekstrem. Salmawati (40) contohnya.
Salmawati yang bertugas di kelurahan Lanna, kecamatan Parangloe, Gowa memiliki cerita suka duka tersendiri saat bekerja sebagai Pantarlih.
Kepada wartawan, Kamis (2/3/2023), Salmawati menceritakan pengalamannya saat bertugas. Saat itu ia melakukan coklit di rumah warga yang berada di atas gunung.
Lokasinya di Kilometer 45, Parang, Kelurahan Lanna Kecamatan Parangloe. Dari rumah, Salmawati berangkat menggunakan jas hujan.
Untuk sampai ke rumah warga tersebut ia menaiki motor terlebih dahulu. Kemudian karena jalanan tidak bisa dilalui motor ia pun berjalan kaki.
Meski hujan turun, semangat Salmawati tidak pudar. Ia tetap berjalan demi pekerjaannya melakukan coklit di rumah warga.
“Kalau di kilometer 45 itu rumah warga di atas gunung jadi harus jalan kaki. Ada 3 rumah warga kalau di situ,” ujarnya
Ketika itu, Salmawati berjalan kaki sekitar 20 sampai 30 meter untuk sampai ke rumah warga. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, namun Salma harus berjuang ekstra hingga sampai di rumah warga.
Melewati jalanan yang licin dan becek. Salma mesti berhati-hati, agar tidak tergelincir.
“Waktu itu saya berjalan sekitar kurang 20 sampai 30 meter berjalan. Dan becek jalanan baru mendaki. Kan rumah warga itu di atas gunung,” ujarnya
Bahkan dia mengaku sempat terpeleset saat menaiki jalanan mendaki itu.
“Iye terpeleset waktu jalan karena licin jalanan baru hujan jadi kita pakai jas hujan juga jalan kaki,” jelasnya.
Dia mengaku saat melakukan coklit memberitahukan bahwa pemilik rumah bahwa dirinya adalah petugas Pantarlih.
Secara singkat ia juga menjelaskan kepada penghuni rumah maksud dan tujuannya untuk melakukan pemutakhiran data menjelang pemilu 2024.
“Warga juga bertanya biasanya kenapa cepat sekali mendata. Jadi kita jelaskan bahwa ini baru pendataan kalau pemilihannya nanti pada 2024. Kita juga pada saat melakukan coklit pakai atribut kayak topi dan rompi,” katanya.
Kata dia, menjadi Pantarlih juga membawa dampak positif dan pengalaman tersendiri baginya.
Ia bisa mengenal satu per satu warga dan rumahnya. Salmawati juga mengaku warga di Parangloe ramah.
“Kalau warga di sini bagus semua menerima dengan baik. Sukanya kan karena sebelumnya kita tidak tahu di mana rumahnya warga ini dan sekarang kita bisa tahu,” pungkasnya.(rus)












