Tak Ambisi Mencalonkan Diri jadi Bupati
STARNEWSID.COM, TAKALAR — – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) kabupaten Takalar mestinya diselanggarakan di tahun 2022. Namun, setelah adanya revisi Undang-undang Pemilu, akhirnya ikut pada pilkada serentak 2024 mendatang. Sehingga, daerah ini akan diisi oleh penjabat sementara setidaknya selama dua tahun.
Hal itu kemudian membuat Iklim politik pada Pilkada Takalar di 2024 tentu akan berlangsung seru. Pasalnya, Syamsari Kitta sebagai petahana utama akan tampil kembali mepertahankan posisinya sebagai Bupati Takalar 2017-2022.

Di sisi lain, kata Ras, terhembus kabar jika Syamsari Kitta tidak lagi serius menatap Pilkada Takalar. Ia justru ingin menatap Pileg DPR RI Dapil Sulsel I.

Hanya saja, lanjut Ras, kabar Syamsari Kitta tidak maju Pilkada mendatang masih abu-abu. Hanya sedikit kasus di mana seorang petahana mengurungkan niatnya untuk kembali bertarung.

“Mengenai peluang petahana. Saya menilai positioning Syamsari Kitta di pilkada mendatang tidak tampil sebagai petahana perkasa,” tambahnya
Ras mengatakan, ada dua hal mengapa positioning Syamsari Kitta tidak mampu tampil sebagai petahana perkasa.

“Situasi ini hampir dirasakan oleh semua kelompok pemilih. Baik mereka yang muda maupun yang tua. Baik mereka berprofesi sebagai nelayan maupun petani,” kata Ras.
Kedua, Syamsari Kitta tidak lagi memegang kendali kekuasaan selama dua tahun.
“Kehadiran Pj di Kabupaten Takalar tentu menjadi hal yang tidak menguntungkan posisi Syamsari Kitta. Pengaruhnya di birokrasi otomatis tidak mengakar lagi. Begitupun juga pengaruh terhadap para kepala desa sebagai ujung tombak pergerakan,” bebernya.

“Lain halnya jika Syamsari Kitta pada periode awalnya ia tampil sebagai bupati populis, bupati yang dicintai rakyatnya. Walaupun pemerintahan diisi oleh seorang Pj, ia akan tetap dirindukan oleh masyarakat Takalar,” ujarnya.
Ras kemudian membeberkan sosok atau figur yang berpeluang pada Pilkada Takalar mendatang.
“Menurut saya ada dua kriteria tokoh bisa tampil sebagai antitesa Syamsari Kitta. Pertama, tokoh yang merepresentasi kerinduan publik terhadap kinerja Burhanuddin sebagai mantan Bupati Takalar. Sentimen anti petahana akan cepat dirangkul oleh tokoh yang diendorses langsung mantan Bupati Takalar ini,” urai Ras.
Kedua, tambah Ras, tokoh yang merepresentasi psikologi publik yang tak puas dengan kinerja bupati saat ini maupun bupati dulu.
“Ia tampil sebagai poros tengah. Lazimnya, poros tengah ini diisi oleh sosok yang tak terafiliasi oleh salah satu partai politik. Kecenderungan poros ini lebih berpeluang diisi oleh sosok berlatar belakang pengusaha,” terangnya.
Ia pun menyarankan, dua poros di atas mesti sedini mungkin memahami posisinya.
“Makin awal ia bergerak dengan kemasan positioningnya, makin peluang berada pada posisi elektabilitas tertinggi,” tuturnya. (*)












