Dr. Hanafi Pelu Paparkan Inovasi “Pela Gandong” dalam Konferensi Nasional Fasilitator dan Trainer BDK Denpasar

STARNEWSID.COM, DENPADAR, BALI ,—-Balai Diklat Keagamaan (BDK) Denpasar sukses menyelenggarakan Konferensi Nasional Fasilitator and Trainer yang menjadi ajang strategis bagi para pengembang SDM keagamaan untuk berbagi praktik terbaik dan inovasi metodologi pembelajaran. Dalam forum bergengsi ini, Dr. Hanafi Pelu dari BDK Makassar tampil sebagai salah satu peserta kunci yang mempresentasikan model pelatihan unik berjudul “Pela Gandong di Madrasah Aliyah Seram Barat”. Presentasinya menyoroti bagaimana integrasi kearifan lokal budaya pelagandong dapat ditransformasikan menjadi kurikulum berbasis cinta yang efektif membentuk karakter siswa, sekaligus menawarkan pendekatan andragogi baru yang relevan dengan konteks pendidikan madrasah di wilayah timur Indonesia.

Materi “Pela Gandong” yang dibawakan Dr. Hanafi Pelu mendapatkan apresiasi tinggi dari para peserta konferensi karena keberhasilannya menjembatani nilai-nilai tradisi Maluku dengan standar kompetensi fasilitator nasional. Beliau menjelaskan bahwa konsep pela gandong bukan sekadar pelestarian budaya, melainkan strategi pedagogis partisipatif yang membangun rasa aman, empati, dan tanggung jawab kolektif dalam proses belajar mengajar. Melalui studi kasus implementasi di MAN Seram Barat, Dr. Hanafi menunjukkan bukti empiris bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan keterlibatan siswa, mengurangi konflik antarpebelajar, dan menciptakan ekosistem madrasah yang inklusif tanpa mengorbankan capaian akademik maupun spiritual.Keberhasilan presentasi Dr. Hanafi Pelu dalam Konferensi Nasional Fasilitator dan Trainer di BDK Denpasar menegaskan pentingnya kolaborasi lintas-balai dalam mengembangkan model pelatihan yang kontekstual dan berdampak nyata. Kepala BDK Denpasar menyatakan bahwa inovasi seperti “Pela Gandong” merupakan aset berharga yang perlu didokumentasikan dan direplikasi secara sistematis di satuan pendidikan lain. Ke depan, rekomendasi dari konferensi ini akan diintegrasikan ke dalam pedoman fasilitator nasional, sekaligus memperkuat jejaring antar-BDK untuk memastikan bahwa setiap program diklat tidak hanya memenuhi standar teknis, tetapi juga menghormati keragaman kultural sebagai fondasi pembangunan SDM keagamaan yang holistik dan berkelanjutan.(*)

Pos terkait