Catatan Academic Journey di Guangzhou, China (2-Selesai)

E-bike menghiasi jalan-jalan di Guangzhou. Mahasiswa juga menggunakan e-bike untuk mobilitas di kampus

Ruslan Ramli
Dosen Fikom Universitas Esa Unggul, Jakarta

 

Bacaan Lainnya

Dosen Naik Mobil, Mahasiswa Pakai E-Scooter

STARNEWSID.COM— China benar-benar memproklamirkan dirinya sebagai raksasa teknologi listrik. Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, pasar domestik adalah target dan ceruk terbesarnya. Industri otomotif dalam negeri China secara massif terus memproduksi mobil listrik (e-car), sepeda motor listrik (e-scooter), maupun sepeda listrik (e-bike). Dukungan insentif dan kebijakan strategis Presiden Xi JinPing menempatkan “The Great Wall” sebagai produsen kendaraan listrik paling maju di dunia.

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke China, tentu paham betul suasana kotanya. Riuh. E-scooter dan e-bike dapat dijumpai di sepanjang jalan kota. Keduanya merajai jalan-jalan pinggiran, salah satunya di Guangzhou. Kota yang dulunya populer dengan sebutan Kanton ini tak pernah sepi e-scooter dan e-bike. Nyaris 24 jam! Saat gelap baru berganti terang, warga lokal sudah mobile di jalan. Berjibaku dengan roda duanya.

Membayangkan suasana riweh, pembaca jelas kenyang pengalaman di Jakarta. Pengendaranya kadang tidak beretika dan memantik emosi. Ada yang ugal-ugalan. Lebih kurang seperti itulah, pengendara main tancap gas saja di sela-sela kendaraan lain. Ujug-ujug menyempil di samping serta menggunting jalan.

Untung pabrikannya sengaja menyetel kecepatannya hanya 25 km per jam atau maksimal 40 km per jam. Kalau tidak, wah sesama pengguna jalan dibuat stres. Serba buru-buru dan tak mau kalah untuk tiba paling awal di tujuan.

Sopan santun di jalan sepertinya jauh dari ekspektasi. Trotoar yang biasanya dipakai pejalan kaki ikut diterobos. Hak mereka dirampas. Kadang pula pengendara mengabaikan traffic light. Selanjutnya menyeberang seenaknya dari arah berlawanan, menerobos kerumunan di area pedestrian. Di Guangzhou, pemandangan begitu sudah klise. E-car bahkan main injak gas meskipun lampu jalan berwarna merah.

Penulis bersama kelompok kecil sebagai outsiders dibuat kaget dua-tiga kali. Suatu pagi misalnya, dari hotel ke stasiun kereta api bawah tanah di Wushan Rd, kami berjalan kaki 200 meter. Tiba-tiba e-scooter menyenggol lengan atau memotong langkah kaki. Bukannya tidak mau menghindar, e-scooter nyaris tak bersuara menyergap. Andai kedengaran, kami geser menepi. Ini, suaranya hening atau tidak berisik sebagaimana suara sepeda motor yang bising di Jabodetabek.

E-scooter dirancang khusus anti-bising. Pabrikan tidak menyertakan mesin pembakaran internal yang selama ini menjadi sumber suara bising. Namun hanya memanfaatkan energi listrik yang terkoneksi langsung ke komponen motor sehingga suaranya soft.

Berkembangnya e-scooter dan e-bike di Guangzhou seiring dengan kebijakan Beijing, sebutan lain pemerintah pusat China. Secara historis, negara adi daya ini memproduksi e-scooter sekitar 30 tahun silam dan mencetak jor-joran sejak awal abad milenium. Pemerintah memberlakukan kebijakan yang melarang penggunaan sepeda motor di beberapa kota besar. Sisi lain, pemerintah sekaligus mendorong pemakaian e-scooter dan e-bike.

Unuk memudahkan mobilitas, pemerintah menata fasilitas umum. Di sudut–sudut jalan, disediakan charger secara gratis. Fasum sengaja dibangun guna mendorong produktivitas penggunanya. Biar mereka dapat menambah daya listrik tanpa kesulitan. E-scooter dan e-bike bukan diparkir tapi mengisi baterai. Kota kelahiran Wong Fei Hung ini relatif aman dari kriminalitas membuat warganya merasa nyaman berkendara e-scooter dan e-bike.

Bagi mahasiswa yang tinggal tak jauh dari kampus, mereka lebih memilih e-scooter untuk mobilitas kuliah dibanding mobil. Selain berbiaya murah, e-scooter jauh lebih praktis. Aman pula. Dalam lingkungan kampus, ia bisa dibawa kemana-mana. Tak perlu repot dengan urusan parkir. Apalagi mahasiswa yang tinggal di dormitori, opsinya pasti e-scooter.

Bahkan ada anekdot bahwa untuk membedakan mana mahasiswa dan mana dosen dapat dilihat dari kendaraan yang digunakan ke kampus. Yang pakai mobil adalah dosen, sedangkan mahasiswa naik e-scooter. “Meskipun ada juga mahasiswa yang pakai mobil, tapi sedikit. Mereka yang kaya. Kebanyakan sepeda,” kata Gallen Dior, mahasiswa arsitektur di South China University of Technology.

Tingginya penggunaan kendaraan listrik berimpak pada lingkungan Guangzhou yang lebih ramah. Kota berpenduduk tiga juta jiwa ini minim polusi. Ekosistem di perkotaan terawat baik sehingga masih dijumpai pemandangan hijau-bersih. Dari arah Bandara Baiyun menuju Tianhe District sebagai pusat keramaian, warga pendatang sepanjang jalan dapat menikmati suasana kota yang segar-alamiah. Warna biru cerah yang menandakan rendah polusi biasa menghiasi langit kota besar di kawasan Selatan Tiongkok ini.

Populasi yang besar tidak membuat Guangzhou jadi crowded. Salah satu strategi yang dijalankan pemerintahnya adalah mendorong penggunaan moda transportasi kereta bawah tanah. Mereka membuat sistem transportasi berbasis massif sehingga memudahkan mobilitas warga. Kehadiran Mass Rapid Transportation (MRT) sangat membantu warga, terutama pelajar dan mahasiswa lantaran berbiaya sangat murah. Tarif termurah 2RMB atau setara Rp4.500. Tarif sedikit lebih mahal untuk jarak yang lebih jauh. Itu pun tarif yang terjangkau. Keretanya besih, pengaturan lalinnya jelas, serta keamanan diperhatikan. Pelayanan diutamakan. (*)

Pos terkait