Buka Kegiatan Pentahelik Program CP DOISP II, Kepala BBWS-PJ Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Waduk

KELESTARIAN WADUK--- Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Djaya Soekarno memberikan sambutan disela membuka kegiatan penguatan jejaring (Pentahelik) Program Community Participatory Doisp II di Hotel Grand Maleo, Makassar, Kamis (15/12/2022).(Foto : Rusli Haisarni)

STARNEWSID.COM,MAKASSAR–Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Sulsel terus menggemakan pelestarian waduk atau bendungan.

Program Doips II menjadi wadahnya. Lewat program tersebut, BBWSPJ mendorong masyarakat untuk terlibat langsung dalam menjaga kelestarian fungsi dan lingkungan waduk atau bendungan.

Kepala BBWS-Pompengan Jeneberang, Djaya Soekarno saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan penguatan jejaring (Pentahelik) Program Community Participatory Doisp II di Hotel Grand Maleo, Makassar, Kamis, 15 Desember 2022 mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan waduk.

Bacaan Lainnya

Menurut dia, keterlibatan masyarakat sekitar dalam menjaga lingkungan akan sangat membantu kelangsungan fungsi waduk atau bendungan.

“Melalui program Doisp II ini, kita ajak semua elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam ikut serta menjaga lingkungan di sekitar waduk atau bendungan,” ujar Djaya Soekarno.

Sejauh ini, pihak BBWS-Pompengan Jeneberang terus melakukan langkah-langkah peningkatan dan pengamanan waduk atau bendungan.

Sebagai bagian dari program Doisp, pihaknya gencar menggalakkan kegiatan penanaman pohon di sekitar waduk atau bendungan. Dalam penanaman pohon itu, melibatkan kelompok masyarakat (Pokmas).

“Kita berharap langkah yang baik. Sehingga muncul sinergitas dalam membenahi permasalahan yang ada terkait fungsi waduk atau bendungan. Seperti pengendalian sedimentasi, kualitas Sumber Daya Air (SDA) dan lingkungan,” tukasnya.

PPK OP III SDA BBWS-PJ Asriani selaku ketua panitia menyebutkan, kegiatan penguatan jejaring (Pentahelik) Program Community Participatory Doisp II ini diikuti oleh puluhan peserta. Mereka adalah kelompok masyarakat sekitar yang mencakup empat waduk.

Yakni Waduk Salomekko dan Ponre-ponre (Bone), Waduk Kalola (Wajo), serta Waduk Bili-bili (Gowa) dengan menghadirkan empat narasumber kompeten.

Antara lain, Muh Firdaus (Kasubkor Pelaksanaan OP BBWSP), Ratna Lelasari Yuniningsih (TA Sosial/Partisipasi Masyarakat CPMU), Beni B Rahardja (TA Sosial/Partisipasi Masyarakat (CPIU), dan Ir Rita Tahir Lopa dari Pusat Kajian Rekayasa SDA Universitas Hasanuddin.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah mewujudkan penguatan kerja sama sehingga terjalin kemitraan dengan semua multi pihak dalam upaya menjaga kelestarian dan peningkatan pengamanan lingkungan waduk dan bendungan,” jelasnya.

Selain dalam bentuk dialog, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penanaman pohon di empat waduk yang tercakup dalam program Doisp.

“Total ada 4000 bibit pohon yang kita tanam di 4 waduk. Masing-masing waduk 1000 bibit pohon,” sebut Asriani.

Jenis pohonnya, lanjut dia cukup beragam. Seperti mangga, kakao, kemiri, rambutan, pala serta kepala hibrida.

“Yang tanam ini masyarakat langsung. Kemudian masyarakat juga yang mengelola. Jadi hasilnya nanti dimanfaatkan oleh masyarakat juga,” terangnya.

Kasubkor Pelaksanaan OP BBWSPJ, Firdaus dalam materinya memaparkan, ancaman kelangsungan fungsi waduk karena kurangnya kesadaran masyarakat sekitar dalam menjaga lingkungan.

Maraknya pembukaan alih fungsi lahan serta penambangan ilegal menjadi ancaman nyata terhadap kelangsungan waduk kedepan.

“Alhasil terjadi longsoran-longsoran di tepi waduk yang berdampak pada peningkatan sedimen ,” katanya.

Sementara itu, Sirua dari Forum Komunitas Daerah Tangkapan Air Waduk Bili-bili menyoroti aktivitas penambangan di Sungai Jeneberang.

“Harus ada edukasi yang diberikan agar aktivitas penambangan ini tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah,” harapnya.(rus)

Pos terkait