STARNEWSID.COM, MAKASSAR – Di tengah gelombang bencana alam yang melanda Indonesia awal tahun 2026, aktivis lingkungan Mashud Azikin menyampaikan refleksi mendalam tentang ketangguhan bangsa. Melalui tulisannya berjudul “Berat yang Kita Pikul Bersama”, Azikin mengajak masyarakat untuk tidak hanya bertahan, tapi juga belajar dari penderitaan kolektif ini, pada Minggu, (4/1/2026).
Indonesia baru saja memasuki 2026 dengan duka berlapis. Bencana hidrometeorologi basah mendominasi, dipicu curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem. Dampak lanjutan dari banjir serta longsor di Sumatera pada akhir 2025 masih terasa, dengan korban jiwa mencapai lebih dari 1.157 orang hingga 1 Januari 2026, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Selain itu, banjir dan longsor baru terjadi di sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Jayawijaya di Papua Pegunungan, yang memaksa ratusan warga mengungsi.
Azikin mengawali tulisannya dengan kutipan inspiratif: “Tak mengapa keadaan memberat, kalau buktinya membuatmu kuat.” Baginya, kalimat ini kini menjadi cermin kolektif bagi Indonesia. Bencana seperti tanah longsor, banjir, angin ekstrem, dan kebakaran hutan datang silih berganti, meninggalkan gambar pilu: rumah hanyut, sawah rusak, dan warga bertahan dengan bantuan seadanya. “Namun, berat ini tidak otomatis membuat kita kuat,” tegas Azikin.
“Ia baru menjadi kekuatan jika diolah menjadi kesadaran.” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya refleksi: tata ruang yang abai, eksploitasi alam berlebihan, dan kebijakan jangka pendek yang sering mengalahkan kepentingan bersama. Tanpa itu, penderitaan hanya berulang tanpa pembelajaran.
Dari perspektif humaniora, bencana menguji watak bangsa. Di saat sulit, muncul dua wajah Indonesia: solidaritas lintas batas melalui gotong royong, dan kecenderungan saling menyalahkan. Sejarah membuktikan, kekuatan bangsa sering lahir dari masa sulit—seperti relawan yang datang sukarela, warga berbagi makanan meski kehilangan rumah, dan doa bersama meski beda keyakinan.
Azikin juga menegaskan, menerima beban bukan berarti pasrah pada kelalaian. “Ketangguhan rakyat jangan jadi alasan negara mengendurkan tanggung jawab,” katanya.
Kekuatan dari penderitaan harus jadi alarm moral bagi pengambil kebijakan, untuk memperbaiki mitigasi bencana, hubungan dengan alam, dan keadilan pemulihan.
Refleksi ini disampaikan Azikin usai ikut aksi nyata bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin. Pada Sabtu, 3 Januari 2026, mereka melakukan penuangan ecoenzym di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang Tamangapa, Makassar.
Ecoenzym, larutan ramah lingkungan dari sampah organik, digunakan untuk mengurangi bau dan polusi di TPA yang sering overload.
Sebagai pendiri Komunitas Manggala Tanpa Sekat dan anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Azikin konsisten mengadvokasi pengelolaan sampah berkelanjutan. Aksi ini sejalan dengan tema KKN Unhas yang fokus pada perubahan iklim dan persampahan. “Hari-hari ini Indonesia memang berat,” tutup Azikin.
“Tapi jika beban ini membuat kita lebih bijak, peduli, dan bertanggung jawab—maka kita benar-benar menjadi lebih kuat, bersama.” tambahnya.
Refleksi ini mengingatkan, di balik duka, ada peluang untuk berbenah dan saling menopang. (*)











